Wishful Thoughts

2 hari menjelang tanggal 1 Januari 2007...

Pengen sebentar kontemplasi atas apa yang udah gw alami selama tahun 2006.
Banyak cerita, kisah dan kesempatan yang mungkin ngga akan berulang.

Lebih menjadi manusia yang bertaqwa..
pengen sholat gw lebih khusyu', lebih banyak berdoa, mengingat Alloh, mengurangi keinginan duniawi..

Lebih sehat..
walaupun tahun ini daftar dokter gw bertambah : dokter asma, dokter kulit wajah, dan dokter gigi (tahun depan kawat gigi udah terpasang, biaya kontrol dan biaya konsultasi jadi nambah deh... ). dan mungkin ya, ada seorang ahli gizi buat gw, supaya pola hidup sehat gw lebih terealisasi. Pastinya gw harus lebih cantik secara inner dan outer, membuat orang2 seneng dengan melihat gw, kan ibadah juga ya.. ;))

Lebih sabar...
masalah pastinya ngga kan pernah usai, so harapan gw, gw jadi lebih bijak menghadapinya. Lebih bijak dalam buat keputusan, buat tindakan, dan buat perilaku..

Lebih mandiri..
untuk mama dan adik2 gw.. untuk Ekal dan untuk anak-anak ku nanti (masih bakal.. :))
mandiri secara materi, emosi dan spiritual.

Lebih banyak belajar..
tahun ini musti lebih banyak lagi buku2 yang harus gw baca. kudu. apalagi buku-buku riset dan buku-buku marketing. Novel-novel lama yang selama ini gw cari2 musti ketemu..

.... amiiin ....

At The End Of December



Jujur, gw paling menikmati musim sepanjang tahun, di bulan April dan Desember.. dan itu gw rasakan sejak gw mulai belajar adanya perbedaan karakter tiap bulan, waktu kuliah.

Seorang dosen senior di lanskap IPB, Ibu Is, terkenal dengan ke-killer-an nya. terkenal karena pilihan "for being single"-nya. Kalo ngga salah, tahun 1996 usia beliau sudah memasuki 40 tahun. tapi toh beliau enjoy banget dengan kesendiriannya.
Kabarnya, tunangannya meninggal saat seminggu menjelang hari pernikahan mereka.
Dan, menariknya ternyata Bu Is itu punya sisi keromantisan yang bikin gw terkagum-kagum.

Oiya, pada tahun 1997, waktu gw tingkat 3, ada satu mata kuliah namanya Perencanaan Lanskap. Gw cinta banget mata kuliah itu, secara gw lemah dalam desain rinci. Tapi kata beberapa dosen mengakui kalo gw ekspert di dalam pembuatan master plan (thanks to Pak Ian, dosen pembimbing gw yang paling care selama kuliah di IPB). Salah satu master plan gw yang dibawa pak Ian ke Korea Selatan sebagai dasar tesis untuk S3 nya di sana, adalah Perencanaan Lanskap Koridor Sungai Cisadane Kotamadya Bogor. kabarnya master plan itu juga dimasukin dalam rencana wilayah 5 tahunan di Bogor. Harusnya gw dapet kompensasi ya, namun itulah gw. Yang kata Bunda : naif bin polos bin bego (karena sering tidak mengklaim jatah lemburan dan jatah medical dan jatah-jatah lainnya). Begitu pula dengan kompensasi master plan gw itu, yang kayaknya gw sendiri ngga ngerti sama sekali, gimana cara mengklaim nya.

Ya, gw mikir, kalo emang itu master plan berguna buat orang banyak, at least bisa meng-counter banjir dari sungai Ciliwung, itu udah sangat berarti buat gw.

Satu lagi, master plan gw yang ampe skarang di pajang di ruang kantor program studi arsitektur lanskap, maket sungai Ciliwung yang mengelilingi Kebun Raya Bogor.

Gila, keliatan banget ya, gw nge-fans ama yang namanya sungai.
Dan itu ampe skarang. Dan tiap orang pasti tertawa, tiap kali gw menyatakan keinginan gw untuk mengubah Sungai Ciliwung seperti Sungai Rhein di Jerman. Cuma Pak Ian, dosen pembimbing gw itu, yang merespon secara optimis. Kami emang punya impian yang sama, mengubah Jakarta menjadi lebih indah : lebih indah dengan hutan kota, lebih indah dengan taman-taman kota, lebih indah dengan sungai-sungai kecil, lebih indah dengan floor-garden, lebih indah dengan koridor jalan yang romantis dan lebih indah dengan keramahan masyarakat Jakarta.

Utopia banget memang. Tapi, jujur, gw sukaaaa banget kalo lagi berandai-andai begitu. Membayangkan gw berjalan di salah satu koridor pohon di taman kota, di suatu sore.

Oiya, kenapa gw suka dengan bulan April. Karena saat itu, saat dimana matahari begitu optimal dalam menstimulasi kemunculan bunga-bunga (yaa, walaupun bunga Sakura lebih seneng mejeng di bulan Agustus-Oktober sih).

Tiap Bulan April, gw selalu menikmati pemandangan di sekeliling gw. Ketika mau berangkat ke kantor, ke pasar, ke mall, ke mana pun. Ngga peduli jalanan macet, gw pasti melihat ada pohon yang mengeluarkan bunganya. Dan puas banget kalo udah menemukan pohon flamboyan tanpa daun tapi rimbun dengan bunga oranye nya. Apalagi kalo diliat pada sore hari, sinar matahari mendramatisir penampakannya... uh!

Bulan Desember? gw suka karena keliatannya romantis gitu menyaksikan hujan dari jendela. mengamati tetesan air turun satu per satu. apalagi kalo membayangkan kehujanan bareng dengan seseorang. Aduh..

Dan semua imajinasi itu terinspirasi dari seorang Ibu Is, dosen killer itu..

Tiba-tiba aja, malam ini gw teringat saat-saat gw jalan bareng ama beliau di sepanjang pesisir pantai Nusa Dua. [just asking my self, kapan lagi gw bisa ke sana ya?]

New Year Greetings..

Duh, seneng sih dapet banyak kartu ucapan selamat tahun baru dari beberapa klien. Artinya, gw cukup diingat sebagai partner (betul tidak?)

Cuman, napa ya kok ada yang nulis :
To Mrs. Dewi Rosita Sari .... (uuugh!)

kenapa sih ngga nanya dolo, status gw apaan skarang!

Apa musti tiap kali ngobrol ama mereka, gw kudu bilang :
"please let me introduce my self. Im Dewi, and Im still single..."

hiks!

Ada Saat Ketika ......

Ada saat ketika aku begitu ingin mengalaminya kembali
Ada saat ketika aku begitu ingin melupakannya

Ada saat ketika itu begitu berarti
Ada saat ketika aku ingin berlari menghindari

Ada saat ketika aku tak mampu menghapusnya
Ada saat ketika aku tak ingin mengingatnya

Ada saat ketika cerita begitu indah terdengar
Ada saat ketika kisah begitu sakit terucap

Ada saat ketika aku ingin mendekat setinggi aku ingin menjauh

Ada saat ketika tanya tetap jadi misteri
Ada saat ketika jujur begitu nyeri

Ada saat ketika tawa begitu indah
Ada saat ketika tangis begitu menyiksa

Ada saat ketika waktu begitu cepat
Ada saat ketika detik begitu lama

Ada saat ketika yakin itu begitu dalam
Ada saat ketika ragu mulai berbunga

Ada saat ketika rindu jadi buta
Ada saat ketika marah begitu keji memaki

Ada saat ketika satu jadi impian
Ada saat ketika pisah jadi tanya

Ada saat ketika kamu ada
Ada saat ketika kamu tiada

Ada putih
Ada abu-abu

Ketika biru semakin melagu...
Di mana kamu ?

(Jakarta, 25 Desember 18.30 WIB, hujan... )

Sebuah Renungan Seorang Perempuan

Melajang: sebuah gugatan atas nasib perempuan

Dunia timur, dengan keindahan adat istiadat, segala etika, kebiasaan, walaupun sudah nyaris berusaha berubah menjadi modern, namun ternyata tetap saja mengungkung perempuan untuk menjadi dirinya sendiri dengan alasan adat, agama, etika, norma, nilai dan sebagainya.

Salah satu bentuk kungkungan bagi perempuan adalah menjadi lajang.
Di dunia barat, menjadi lajang adalah sebuah pilihan.
Sementara di dunia timur, ia adalah "nasib", tidak peduli alasan apakah ia masih melajang karena ia belum ingin menikah atau ia sudah ingin menikah tetapi belum menemukan calon yang tepat. Ternyata keduanya sama saja.

Belum ingin menikah atau sudah ingin menikah namun belum mempunyai calon, keduanya sama-sama dianggap sebuah dosa bagi masyarakat, muncul cap "perawan tua", "tidak laku", "kebanyakan memilih", dst.
Padahal, bagaimana jika perempuan tersebut memang belum memiliki keinginan yang kuat untuk menikah? Bagaimana jika ia belum berusaha mencari calon pasangannya itu? Ternyata itulah dosanya.

Anehnya, di dunia yang menyatakan dirinya punya etika sopan santun yang luar biasa, justru, tidak bisa bersikap sopan terhadap perempuan (baca : perempuan lajang).
Abusement, menjadi sebuah fenomena, bukan saja melalui tindakan, tetapi juga perkataan dan tulisan.
Perilaku ini tidak hanya menimpa perempuan lajang yang low education, tinggal di pedesaan atau daerah pinggir, bekerja kasar, tetapi juga yang memiliki pendidikan tinggi, tinggal di perkotaan, dan mempunyai pekerjaan yang sangat terhormat.

Kadang, yang dijadikan alasan bagi kaum laki-laki Timur adalah "pakaian" yang dikenakan si perempuan tadi. jika ia mengenakan pakaian yang "mengundang", maka wajar jika ia diperlakukan seperti itu. Namun, ternyata, banyak pula abusement yang terjadi pada perempuan yang berjilbab rapi (baca : tidak asal berjilbab menutupi kepala).

Abusement yang biasa dilakukan biasanya melalui lisan atau tulisan, dan parahnya hal ini bukan dilakukan oleh laki-laki "sembarangan", tetapi juga dilakukan oleh laki-laki yang berasal dari kelompok "mereka".
Dan alasan mengapa mereka diperlakukan seperti itu, HANYA karena mereka lajang.

Sebuah fenomena.

Saya tidak bermaksud untuk menjelek-jelekkan salah satu kelompok dalam masyarakat, namun sampai detik ini saya beranggapan bahwa kelompok muslim yang saya sebutkan masih menjadi fenomena "masyarakat yang bersih" di masyarakat Indonesia. Bersih dalam arti nyaris tanpa dosa dan kesalahan, mencoba untuk ber-uswah pada Rasulullah.

Kenyataannya?

Apakah sedemikian rendahnya seorang perempuan lajang, terutama jika ia sudah bekerja? Apakah mereka "wajib" menerima semua laki-laki yang datang untuk menawarkan keseriusan? Bagaimana jika ia memang memutuskan untuk menjadi lajang? Bahwa ia belum tertarik untuk membina hubungan denganseorang laki2, belum berminat untuk "mengemban" tugas2 rumah tangga, apalagi mengingat tugas rumah tangga bagi seorang perempuan timur luar biasa banyaknya dibandingkan perempuan barat.

Ditambah, laki-laki timur pada umumnya "lebih suka" dilayani, dalam arti, pekerjaan rumah tangga adalah pekerjaan perempuan, bukan pekerjaan laki-laki. Padahal, perempuan juga dituntut untuk "keluar" dari rumahnya, baik itu untuk kuliah atau pun bekerja. Apakah memang ia menjadi "layak" dilecehkan hanya karena ia LAJANG?

Apakah perempuan timur tidak boleh memilih?

Apakah perempuan timur tidak berhak menentukan dirinya sendiri, memutuskan kapan ia akan menikah, kapan ia akan bekerja, dengan siapa ia akan menikah, apakah ia akan menerima dan menolak "keseriusan" setiap laki-laki yang datang kepadanya?

Mengapa masyarakat tidak berusaha adil dalam memandang masalah ini. Jika seorang laki-laki melajang dianggap karena ia telah memilih menjadi lajang, sementara perempuan melajang karena nasib. Jika perempuan melajang dapat menjadi "fitnah" bagi laki-laki, mengapa laki-laki tidak berusaha "menyikapi" permasalahan ini dengan berusaha "mengurangi" tugas perempuan sebagai istri.

Laki-laki tidak harus selamanya dilayani, seorang perempuan tidak harus selamanya mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga,
laki-laki juga harus, terutama jika istrinya masih harus bekerja di luar rumah.
Toh, Rasulullah pun mencuci pakaiannya sendiri.

Alasan "perempuan" harus di rumah, tampaknya juga menjadi masalah.
Sebab, tidak semua bidang bisa dikuasai laki-laki.
Terlalu banyak perempuan cerdas yang memiliki kemampuan di atas laki-laki dan akan menjadi sangat "mubazir" jika ia hanya menggunakan kemampuan tersebut hanya untuk mengurus anaknya, padahal kemampuannya bisa digunakan untuk kesejahteraan umat.

Terlalu banyak masalah perempuan yang ada di dunia timur.
Sayangnya, para perempuan di timur tidak terlalu peduli dengan kondisi tersebut.
Para da'iyah juga tampaknya tidak terlalu banyak membantu menyikapi masalah ini.
Mereka lebih banyak memberikan pandangan sebaiknya perempuan di rumah, tanpa pernah menggunakan pendekatan sosiologis dan psikologis terhadap masing-masing mad'u-nya.

Sayang sekali jika ternyata fenomena masalah perempuan harus diungkap oleh (lagi) dunia barat, yang justru akan semakin membuktikan buruknya budaya timur dan Islam dalam memandang masalah perempuan.

Adakah hal ini dicermati oleh para perempuan (dan laki-laki) di dunia timur?
Adakah hal ini ditindaklanjuti oleh mereka dengan sebuah solusi yang kontemporer, tidak hanya melihat dari sisi Al Qur'an dan Hadits, tetapi juga dari sisi yang ilmiah, sosiologis, dan psikologis? Adakah?

(c) Nadira Sudiro, Sosiolog, kandidat PhD,Sorbonne, Paris, & the Australian National University, Canberramenetap di Sydney, Canberra, Jakarta, London, Paris.Thu, Jun 30, 2005 - 12:02 PM

Mom, happy a mother day!

22 Desember 2006.

07.45
"Uwie, bangun! jadi ngga ke dokter giginya... mama anterin ...!"
Iya, aku bangun kesiangan. Seperti biasa, abis sholat shubuh, tidur lagi. Antara sadar dan tidak, toh aku masih inget, hari itu aku cuti!

08.25
Berangkat ke rumah sakit, dengan mama. Oiya, hari ini hari ibu. Aku memang bukan tipikal orang yang bisa menyatakan sesuatu secara verbal dengan baik. Hanya memegang tangan dan memeluknya erat-erat sambil berjalan menikmati pagi yang jarang sekali kutemui (biasanya lagi dikantor mengerjakan to-do-lists!)

09.30
Drg. Wati memeriksa gigi, dan siap-siap mencabut dua gigi gerahamku yang sering menyiksa malam-malamku!
"Wi, apakah kemana-mana kamu selalu ditemenin mama-mu? Kamu bukan anak kecil lagi.." katanya sambil menyuntikkan serum bius ke beberapa sisi geraham yang akan dicabut. Grrrr! curang, aku 'kan jadi ngga bisa berargumen melawan tuduhannya tadi... "Ini hari ibu, dan aku pengen bersamanya hari ini!" tapi cuman dalam hati.. mulutku sibuk menyeringai kesakitan.

10.00
Menunggu resep obat di bagian apotik. "Mama pengen bikin qurban tahun ini, tapi Uwie yang bayarin ya?" kata mama sambil mengamati pipiku yang membengkak setelah masa penyiksaan cabut gigi berlalu... aku mengangguk, mengiyakan dalam hati. dan tersadar akan sesuatu :"aku ngga bisa nabung bulan ini berarti..." Mata ku berkedip-kedip, mengikuti otakku yang mulai sibuk berhitung pengeluaran bulan ini.. phew!

12.00
"mama, Uwie mo tidur, kalo ada telepon dari siapa pun, tolong tinggalin pesen, jangan bangunin Uwie ya..."
Mama mengiyakan dan meninggalkan aku sendirian di kamar untuk tertidur kembali karena analgesics yang mulai bekerja. Antara sadar dan tidak (lagi) aku pun bergumam : "selamat hari ibu ya Ma.." padahal yang kutahu, mama ngga lagi di situ, dia menghilang ke ruang dalam.
Ya Alloh, berikan saya kesempatan untuk membahagiakannya selama sisa hidup saya nanti...

Dump!!! I hate my self (this time)

saat begini yang paling gw benci.
saat gw merasa begitu kecil dan bodoh.
saat gw merasa melakukan sesuatu yang sia-sia tanpa progess kemajuan
saat gw merasa telah mengambil jalan yang salah.

saat gw sebal dengan tuntutan
saat gw merasa jadi korban atas kata puas
saat gw merasa perlu berteriak "tidak" tapi kenyataan membuat gw diam tanpa bela
saat gw benci kenapa gw begitu.

saat gw merasa gw malu dengan diri gw sendiri, gw ngga peduli apa yang ada dalam pikiran orang lain.
saat gw merasa nothing amongst something.
stupid!!

saat gw ngga tau kenapa gw lakukan itu.
saat gw cuma bisa menarik nafas panjang demi ketenangan
saat gw merasa berhak untuk berteriak, tapi gw cuma menangis
saat gw merasa diperbodohi tapi gw justru berpikir itu yang ternyaman buat gw (saat itu)
saat gw dijudge di bawah apa yang selama ini gw gambarkan tentang integritas diri gw.
saat gw harus bilang "itu bukan gw", tapi gw diam mengaminkan, dan menghibur diri : gw belum maksimal memang.

saat gw ngga tau, mana yang benar dan mana yang salah.
saat gw ngga bisa bertanya hati gw, karena dia sibuk menenangkan kepanikan gw.
saat gw ngga bisa bertanya dengan otak gw, karena dia sibuk mencerna alasan apa yang paling masuk akal.
saat gw ngga bisa bertanya perasaan gw, karena dia pingsan saat menyaksikan kejomplangan.
melihat harapan seolah tak ada.

saat ini gw merasa jadi orang yang paling bodoh sedunia.
dan gw tau, cuma gw yang bisa menentukan bagaimana gw seharusnya. tapi, skarang gw lagi buntu untuk bagaimana.

saat ini gw cuma pengen bilang : please jangan ganggu gw, gw pengen tenang. karena dalam tenanglah gw bisa berdiri lagi, biarin gw begini, jangan bantu gw berdiri, gw tau gw bisa, tapi yang gw tau itu bukan dalam detik ini, jangan tunggu detik berikutnya, karena cuma gw yang tau pada detik berapa gw berdiri..... biarin gw sendiri..

Doa Untuk Kekasihku

Ya Alloh, berikan terang cahayaMu untuknya.
Berikan kasihMu senantiasa untuknya.
Berikan ketenangan selalu untuknya.

Ya Alloh, lindungi dia dari bahaya, baik yang nyata maupun yang tersamar.
limpahi dia dengan kesehatan dan kekuatanMu agar ia mampu memberi arti untuk orang lain dan untuk dirinya sendiri.

Ya Alloh, bisikkan padanya bahwa aku kangen ...
bahwa tak henti akalku memikirkan yang terbaik untuknya,
bahwa tak bosan hatiku mengukir indah namanya di relungku yang terdalam,
bahwa semua takkan melelahkan untuknya..

**di mana pun kamu, meski kita jauh, yakinkan aku bahwa kita pasti dekat dalam satu ruang terindah dalam restuNya**

Wake Me Up When December Ends

Ya Alloh,
Engkaulah Yang Mengetahui isi hatiku dan hatinya.
Terangilah mereka dengan cahaya-Mu, agar senantiasa mengenangMu jauh di lubuk yang terdalam.

Ya Alloh, jika Engkau izinkan, perkenankan kami berdoa untuk suatu masa ketika semua malaikat mengelilingi dan menengadahkan tangan untuk kemuliaan kami.

Namun, bila Engkau mempunyai rencana yang lain untuk kami, ketahuilah bahwa tak satu pun aral yang mampu meniadakan keikhlasan kami.

Ya Alloh,
Engkaulah Yang Mengetahui isi hati kami,
walaupun kami saling jauh, yakinkan bahwa kami hanya sebatas kuku dan jemari.

Ya Alloh,
Bila bening malam dan putih bulan itu indah untuk kami,
Jika terang mentari dan lembut awan itu teduh bagi kami,
Perkenankan kami satu menyebutMu 'bagai naungan rumah kehidupan kami nanti, dan kehidupan setelah kami mati.

Ya Alloh Yang Maha Kasih,
Dalam genggamanMu kami labuhkan semua impian, karena kami yakin itulah yang terindah bagi kami..